RKpx 4250 : 0 - 0 - 0 - 0 Pengertian Kehamilan Ektopik | Rahasia Kesuburan

Waspada Kehamilan Ektopik!

kehamilan-ektopik-pengertian-faktor-dan-gejala
Bagikan via Whatsapp!

Rahasia Kesuburan -

Pernahkah Sobat RK tahu pengertian Kehamilan Ektopik? Mungkin, beberapa di antara kita masih merasa asing dengan pengertian Kehamilan Ektopik. Kehamilan ektopik sering disebut sebagai kehamilan di luar kandungan. Secara garis besar, frekuensi kehamilan ektopik adalah 1% dari seluruh kehamilan.

Indonesia, yang termasuk salah satu negara anggota ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) dikategorikan sebagai negara dengan angka kematian ibu yang cukup tinggi, yakni sebesar 390 dari 100.000. Salah satu penyakit dalam proses kehamilan yang juga marak terjadi di Indonesia adalah Kehamilan Ektopik. Frekuensi Kehamilan Ektopik bervariasi yakni antara 1 dalam 28 persalinan hingga 1 dalam 329 persalinan. Sebenarnya apa sih pengertian Kehamilan Ektopik, faktor-faktor yang menyebabkan penyakit tersebut muncul, dan apa saja gejalanya? Yuk, Sobat RK disimak sampai akhir ya penjelasannya!

Pengertian Kehamilan Ektopik

Kehamilan Ektopik adalah kondisi kehamilan dengan ovum yang dapat dibuahi dan berimplantasi, namun ternyata tidak tumbuh di tempat yang normal yakni pada endometrium kavum uteri. Namun, apabila kehamilan ektopik tersebut mengalami abortus (pengakhiran) maka kondisi ini disebut dengan Kehamilan Ektopik Terganggu atau yang dikenal dengan singkatan KET. Kehamilan Ektopik adalah keadaan darurat yang dapat menjadi penyebab kematian maternal selama proses kehamilan trisementer pertama. Terjadinya Kehamilan Ektopik diawali dengan pembuahan telur pada bagian yang disebut dengan ampulla tuba, tetapi, ketika sedang dalam perjalanan ke uterus, telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih tetap di tuba.

Berdasarkan data yang diperoleh WHO (World Health Organization), sebanyak 80%, Kehamilan Ektopik terjadi pada tuba fallopi yang menyerang wanita berumur 35 tahun ke atas. Sedangkan 60% terjadi pada wanita dengan paritas pertama dan kedua. Insiden Kehamilan Ektopik meningkat pada kebanyakan wanita terutama bagi mereka yang berumur 20 – 40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Secara keseluruhan, terdapat kira-kira 98% Kehamilan Ektopik yang terjadi di daerah tuba fallopi. Walaupun begitu, Kehamilan Ektopik bisa saja terjadi pada ovarium atau indung telur, rongga abdomen atau perut, serta serviks atau leher rahim.

Baca juga:  Berapakah Usia yang Tepat Untuk Bunda Hamil?

Faktor-Faktor Apa Saja yang Memengaruhi Kehamilan Ektopik?

faktor-faktor-penyebab-kehamilan-ektopik

Terdapat 4 faktor yang dianggap dapat memengaruhi terjadinya kehamilan ektopik, yakni:

1. Faktor Tuba:

  • Terjadinya infeksi atau peradangan pada tuba. Hal ini akan menyebabkan lumen tuba menyempit atau buntu.
  • Saluran tuba yang berkelok-kelok panjang sehingga silia tuba tidak berfungsi dengan baik.
  • Kelaninan endometriosis tuba.
  • Terdapat tumor di sekitar saluran tuba, misanya mioma uteri atau tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk. Hal tersebut  juga dapat menjadi etiologi Kehamilan Ektopik Terganggu.

2. Faktor Abnormalitas dari Zigot:

Yakni merupakan kondisi dimana tumbuh terlalu cepat atau berukuran besar, oleh karena itu zigot akan tersumbat dalam perjalanan melalui tuba, kemudian berhenti serta tumbuh di saluran tuba.

3. Faktor Ovarium:

Ovum yang telah diproduksi ovarium tertangkap oleh tuba sehingga peluang terjadinya Kehamilan Ektopik menjadi lebih besar.

4. Faktor Hormonal:

Pil KB dapat mengakibatkan gerakan tuba melambat. Jika terjadi pembuahan dapat menyebabkan peluang terjadinya kehamilan ektopik.

Gejala-Gejala Kehamilan Ektopik

gejala-gejala-kehamilan-ektopik

Gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita Kehamilan Ektopik biasanya, berupa:

  1. Amenorea: gejala ini bisa dirasakan dari beberapa hari bahkan hingga beberapa bulan. Selain itu, gejala amenorea juga dapat dijumpai melalui tanda-tanda kehamilan muda, yaitu morning sickness, mual-muntah serta terjadi perasaan ngidam.
  2. Nyeri abdomen: hal ini dapat terjadi karena kondisi tuba yang pecah. Nyeri yang dirasakan dapat menjalar ke seluruh abdomen, namun tergantung dari perdarahan di dalamnya. Apabila rangsangan darah dalam abdomen telah mencapai diafragma, maka kemungkinan besar akan menimbulkan nyeri pada bahu. Kemudian, jika darahnya membentuk hematokel yakni timbunan pada kavum douglas, maka akan terasa nyeri pada bagian bawah. Begitu juga saat sedang buang air besar.
  3. Perdarahan: darah yang tertimbun pada kavum abdomen tidak berfungsi sehingga akan terjadi gangguan dalam sirkulasi umum yang menyebabkan nadi meningkat, tekanan darah menurun hingga penderita jatuh dalam keadaan syok.
  4. Perut semakin mengeras dan membesar.
  5. Suhu badan sedikit naik.
Baca juga:  Hamil dalam Waktu Singkat setelah Menikah? Begini Penjelasannya melalui Metode HPHT!

Baca Juga:

  1. Ini Dia 2 Jenis Tanda Kehamilan yang Harus Bunda Tahu!
  2. Punya Riwayat Plasenta Previa, Bisakah Lahiran Normal?
  3. Kehamilan Kosong : Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Comments